Aku melihatnya hancur berkali kali.
Saat ditinggal separuh hidupnya, aku masih sangat muda. Aku tidak paham bagaimana patah hatinya saat itu.
Saat ditinggal adiknya yang selalu memberi support selepas kepergian separuh hidupnya, aku sudah lebih paham, namun belum cukup dewasa untuk merasakan.
Saat ditinggal oleh ibunya (mbahku) yang selalu memberi support ketika dia terpuruk, aku sudah cukup dewasa untuk paham dan merasakan apa yang dia rasakan.
Aku melihatnya hancur.
Walau Ibunya sudah memberikan sinyal bahwa waktunya tidak lama lagi, tetap saja dia belum siap menerima kenyataan itu.
Saat aku melihatnya menangis, aku hancur.
Entah kenapa, aku merasa bertanggungjawab untuk setiap air matanya yang jatuh.
Saat itu, aku merasa takut, bahwa aku akan membuatnya hancur untuk kesekian kalinya.
Aku bertekad untuk selalu ada untuknya, menjadi sandaran, dan harapannya untuk tetap hidup dengan bahagia.
Mama adalah perempuan paling berarti buatku. Mama mungkin bukan perempuan yang paling kuat, namun buatku, Mama adalah yang terbaik, dan harus diperjuangkan sampai kapanpun.
Imported from my medium post - May 30th 2020