Skip to main content

Lemah

Aku duduk disebelahnya, berusaha tersenyum di depan raut sendunya.

Sialnya, aku kesulitan mengontrol emosi saat melihatnya..

Dia sedih, namun tidak mampu menjelaskan.

Rupanya, selalu cantik, terlihat bekas senyum yang kini terpahat menjadi garis muka.

Kaki tangannya lemah, tidak mampu lagi menumpu tubuh ringkihnya.

Dia sekarang banyak diam. Matanya sering menatap langit-langit. Seperti memendam suatu beban yang tidak ingin dibagikan.

Setiap aku bertanya, “Sedang memikirkan apa?”

Selalu dijawab, “Tidak ada,” kemudian tersenyum.

Sesekali dia menggenggam tanganku, erat, namun tidak sekuat dulu.

Dulu, dia takut melepasku karena khawatir akan nasibku tanpanya.

Kini, dia takut melepasku karena khawatir akan dirinya, bagaimana dia bisa terjaga tanpaku.

“Di sini aja ya, aku takut.”

Aku mengingat bagaimana dia selalu ada buatku.

Bahkan, saat aku hilang arah karena ditinggal separuh hidupku.

Dia mencintaiku dengan caranya. Jauh dari kelembutan.

Dia orang yang keras, tegas, dan bijaksana.

Sedangkan aku, sangat rapuh.

Dia menguatkanku, seakan dia tidak pernah merasakan yang aku rasakan. Padahal tidak.

“Kalau sedih jangan diturutin, ingat ada yang menunggumu untuk bangkit.”

Aku harus bersyukur, atas jalan hidup yang ku jalani saat ini. Walaupun aku sangat sadar, aku pernah hampir putus asa karena satu kejadian (dan banyak lainnya).

Karena jalan ini, aku sempat membaktikan diriku untuknya.

Aku tidak yakin, bagaimana dia dulu kalau aku tidak di jalan ini.

Sendiri. Sepi. Sendu.

Oh, aku bersyukur.

- Ponorogo, 14 September 2019



Imported from my medium post - September 22nd 2019