Bismillah.
Assalamu'alaikum
Berjuang adalah sesuatu yang nggak gampang. Apapun itu.
Aku mungkin baru merasakan perjuangan yang tidak lebih berat dari orang lain di luar sana maupun anda, tapi satu hal yang aku pelajari,
Tanggal 19 Agustus 2015 KRS online pun dibuka pukul 8. Sesuai janji. Hari itu, aku alhamdulillah dapet 80% makul yang harus aku ambil di semester ini, itu hasil menunggu selama 8 jam + 50 menit yang kemarin. Besoknya, tanggal 20 Agustus 2015 mulai dari jam 8 sampe jam 4 aku duduk menunggu di depan laptop. Hasilnya? Alhamdulillah aku memenuhi 90% makul yang aku ambil. Kurang 10% lagi. Lanjut besoknya hari terakhir. Sesungguhnya aku seharian nunggu cuma nunggu 2 makul. Yang 1 udah dapet sejak jam 10 pagi. Yang 1 ga dapet sampe hari berakhir. Maksudnya ga dapet di sini, ga dapet apa yang aku inginkan. Ya semua mahasiswa punya rencana mengenai jadwal kuliahnya, begitupun aku. Aku udah buat rencana untuk jadwal kuliahku sesuai keinginanku. Oke, masih ada besoknya hari terakhir. Dan itu hari jum'at, tanggal 21 Agustus 2015. Jam 8 lagi aku baru stay di depan laptop. Sampe jam 9 akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berjuang untuk 1 makul itu. Aku pilih kelas seadanya. Lanjut aku mengurus lembar-lembar kertas yang dibutuhkan untuk menghadap DPA(Dosen Pembimbing Akademik) untuk meminta persetujuan KRS. Lanjut aku bertemu beliau dan alhamdulillah akhirnya disetujui. Belum selesai, lanjut aku ngurus ke laboratorium untuk ambil jadwal praktikum. Dan alhamdulillah lagi, aku dapet jadwal sesuai yang aku butuhkan. Dan sebelum aku daftar, tinggal ada 5 slot kosong tersisa. Kalo aku nggak dapet praktikum jadwal itu, aku mau tidak mau harus drop salah satu makul. Belum selesai lagi, setelah urusan KRS kelar, lanjut aku mengurus surat-surat untuk sebuah acara yang wajib selesai hari itu. Setelah proses yang lumayan lama, surat itu akhirnya alhamdulillah disetujui jam 4an sore.
Ya dari situ aku belajar. Kalo aku tidak berhenti menunggu kelas yang aku inginkan dibuka saat itu juga, aku bakal jauh lebih menyesal di akhir. Aku sadar, dari keputusanku untuk berhenti, aku dapet lebih banyak hal. Pertama, DPA ku pergi entah kemana setelah aku minta tanda tangan KRS dan gak kembali sampek sore. Seandainya aku telat minta tanda tangan KRS, keemungkinan besar aku gak dapet tanda tangan. Kedua, seandainya aku telat dapet tanda tangan KRS aku ga dapet jadwal praktikum itu, karena aku mau tidak mau harus drop salah satu makul. Beberapa menit setelah aku daftar, kuota praktikum pada jadwal itu penuh. Ketiga, seandainya aku belum dapet tanda tangan KRS, aku mungkin tidak bisa mengurus surat-surat itu. Dan aku bakal sangat merasa bersalah. Dan yang terakhir, kalo aku tidak berhenti menunggu saat itu, lafadz alhamdulillah akan lebih sedikit tertulis di post ini.
Kadang kita, terutama aku, bingung kapan harus berhenti berjuang. Dan dari pengalaman kecil ku tadi, sedikit banyak aku bisa belajar. Aku tau kapan aku harus berhenti memperjuangkan sesuatu. Kita harus berhenti berjuang ketika sesuatu yang kita perjuangkan, nggak pantas untuk diperjuangkan lagi. Kita akan sadar, jika kita terus memperjuangkan itu, kita tidak akan dapat apa-apa kecuali kekecewaan. Dan itu benar, kalo saja aku nggak ambil makul itu saat itu juga, aku mungkin harus ngurus lebih lama lagi karena beberapa saat setelah itu, kuota penuh dan hingga sore, kuota nggak kebuka lagi. Ya mungkin jikalau dapet kebaikan, kebaikan itu akan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kekecewaan yang kita terima.
Tapi dalam beberapa keadaan suatu hal selalu pantas untuk diperjuangkan.
Wassalamu'alaikum.
Assalamu'alaikum
Berjuang adalah sesuatu yang nggak gampang. Apapun itu.
Aku mungkin baru merasakan perjuangan yang tidak lebih berat dari orang lain di luar sana maupun anda, tapi satu hal yang aku pelajari,
Aku tau kapan aku harus berhenti berjuang.Minggu ini adalah, minggu krs online & offline jurusan. Seharusnya sih mulai tanggal 18 Agustus 2015. Tapi karena ada kendala, KRS dimundurkan jadi besoknya yaitu tanggal 19 Agustus 2015. Nah, ada masalah yang timbul dengan landasan waktu KRS yang dimundurin. Semua mahasiswa yang udah stand by dengan amunisi masing-masing dapet harapan palsu. Masalahnya, beberapa mahasiswa sedang menjalankan KKN(Kuliah Kerja Nyata) di daerah-daerah yang beragam. Bayangin, ada beberapa kakak tingkat yang mengeluh, udah turun gunung selama 4 jam hanya untuk dapet koneksi internet, tapi hasilnya : Nol. Ya, walaupun kecewa, marah, mereka akan tetap melakukan apapun untuk KRS, karena mereka sadar, mereka butuh itu (dalam konteks kuliah). Akupun akan melakukan hal yang sama walaupun dikecewakan berulang-ulang, karena aku pun butuh itu. Tapi, kalo nggak berubah, kita harus bertindak. Berhenti berjuang? Nggak juga, tapi memperbaiki keadaan, walopun gak mudah. Kesannya seperti diperbudak kebutuhan ya. Nggak juga sebenernya, contoh lain deh. Kita hidup butuh oksigen. Secara naluri, kita akan berusaha dapatkan itu. Supaya apa? Bisa tetep bernafas, dan tetap hidup. Dan, emang caranya tiap orang untuk dapet oksigen beda-beda.
Tanggal 19 Agustus 2015 KRS online pun dibuka pukul 8. Sesuai janji. Hari itu, aku alhamdulillah dapet 80% makul yang harus aku ambil di semester ini, itu hasil menunggu selama 8 jam + 50 menit yang kemarin. Besoknya, tanggal 20 Agustus 2015 mulai dari jam 8 sampe jam 4 aku duduk menunggu di depan laptop. Hasilnya? Alhamdulillah aku memenuhi 90% makul yang aku ambil. Kurang 10% lagi. Lanjut besoknya hari terakhir. Sesungguhnya aku seharian nunggu cuma nunggu 2 makul. Yang 1 udah dapet sejak jam 10 pagi. Yang 1 ga dapet sampe hari berakhir. Maksudnya ga dapet di sini, ga dapet apa yang aku inginkan. Ya semua mahasiswa punya rencana mengenai jadwal kuliahnya, begitupun aku. Aku udah buat rencana untuk jadwal kuliahku sesuai keinginanku. Oke, masih ada besoknya hari terakhir. Dan itu hari jum'at, tanggal 21 Agustus 2015. Jam 8 lagi aku baru stay di depan laptop. Sampe jam 9 akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berjuang untuk 1 makul itu. Aku pilih kelas seadanya. Lanjut aku mengurus lembar-lembar kertas yang dibutuhkan untuk menghadap DPA(Dosen Pembimbing Akademik) untuk meminta persetujuan KRS. Lanjut aku bertemu beliau dan alhamdulillah akhirnya disetujui. Belum selesai, lanjut aku ngurus ke laboratorium untuk ambil jadwal praktikum. Dan alhamdulillah lagi, aku dapet jadwal sesuai yang aku butuhkan. Dan sebelum aku daftar, tinggal ada 5 slot kosong tersisa. Kalo aku nggak dapet praktikum jadwal itu, aku mau tidak mau harus drop salah satu makul. Belum selesai lagi, setelah urusan KRS kelar, lanjut aku mengurus surat-surat untuk sebuah acara yang wajib selesai hari itu. Setelah proses yang lumayan lama, surat itu akhirnya alhamdulillah disetujui jam 4an sore.
Ya dari situ aku belajar. Kalo aku tidak berhenti menunggu kelas yang aku inginkan dibuka saat itu juga, aku bakal jauh lebih menyesal di akhir. Aku sadar, dari keputusanku untuk berhenti, aku dapet lebih banyak hal. Pertama, DPA ku pergi entah kemana setelah aku minta tanda tangan KRS dan gak kembali sampek sore. Seandainya aku telat minta tanda tangan KRS, keemungkinan besar aku gak dapet tanda tangan. Kedua, seandainya aku telat dapet tanda tangan KRS aku ga dapet jadwal praktikum itu, karena aku mau tidak mau harus drop salah satu makul. Beberapa menit setelah aku daftar, kuota praktikum pada jadwal itu penuh. Ketiga, seandainya aku belum dapet tanda tangan KRS, aku mungkin tidak bisa mengurus surat-surat itu. Dan aku bakal sangat merasa bersalah. Dan yang terakhir, kalo aku tidak berhenti menunggu saat itu, lafadz alhamdulillah akan lebih sedikit tertulis di post ini.
Kadang kita, terutama aku, bingung kapan harus berhenti berjuang. Dan dari pengalaman kecil ku tadi, sedikit banyak aku bisa belajar. Aku tau kapan aku harus berhenti memperjuangkan sesuatu. Kita harus berhenti berjuang ketika sesuatu yang kita perjuangkan, nggak pantas untuk diperjuangkan lagi. Kita akan sadar, jika kita terus memperjuangkan itu, kita tidak akan dapat apa-apa kecuali kekecewaan. Dan itu benar, kalo saja aku nggak ambil makul itu saat itu juga, aku mungkin harus ngurus lebih lama lagi karena beberapa saat setelah itu, kuota penuh dan hingga sore, kuota nggak kebuka lagi. Ya mungkin jikalau dapet kebaikan, kebaikan itu akan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kekecewaan yang kita terima.
Tapi dalam beberapa keadaan suatu hal selalu pantas untuk diperjuangkan.
Wassalamu'alaikum.